Sabtu, 22 Juni 2013

LAPORAN PRAKTIKUM
ALEL GANDA



Score
Tujuan

Tinjauan Pustaka

Metodologi

Hasil

Pembahasan

Kesimpulan

Daftar Bacaan

Penulisan

Pinalti

Nilai Akhir

logoUNJ_5.jpg



Fitriani Wahyu Setyaningrum
3415092300



JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2013


Tujuan
1.       Mengenal beberapa sifat keturunan pada manusia yang ditentukan oleh pengaruh alel ganda
2.       Mencoba menetapkan genotip sendiri
3.       Mengetahui penggunaan serum pada percobaan golongan darah
4.       Menentukan golongan darah sendiri melalui percobaan
5.       Mengetahui kemungkinan genotip dari golongan darah





































Tinjauan Pustaka
Genetika berasal dari bahasa yaitu Yunani γέννω atau genno yang berarti "melahirkan" merupakan cabang biologi yang penting saat ini. Ilmu ini mempelajari berbagai aspek yang menyangkut pewarisan sifat dan variasi sifat pada organisme maupun suborganisme (seperti virus dan prion). Ada pula yang dengan singkat mengatakan, genetika adalah ilmu tentang gen. 
Nama "genetika" diperkenalkan oleh William Bateson pada suatu surat pribadi kepada Adam Chadwick dan ia menggunakannya pada Konferensi Internasional tentang Genetika ke-3 pada tahun 1906. Meskipun orang biasanya menetapkan genetika dimulai dengan ditemukannya kembali naskah artikel yang ditulis Gregor Mendel pada tahun 1900, sebetulnya kajian genetika sudah dikenal sejak masa prasejarah, seperti domestikasi dan pengembangan trah-trah murni (pemuliaan) ternak dan tanaman. Orang juga sudah mengenal efek persilangan dan perkawinan sekerabat serta membuat sejumlah prosedur dan peraturan mengenai hal tersebut sejak sebelum genetika berdiri sebagai ilmu yang mandiri. Silsilah tentang penyakit pada keluarga, misalnya, sudah dikaji orang sebelum itu. Kala itu, kajian semacam ini disebut "ilmu pewarisan" atau hereditas (Anonim, 2009).
Kita ketahui bahwa pengertian alel ganda ialah bahwa dalam suatu populasi individu jumlah jenis alel pada suatu lokus terdapat lebih dari dua. Contoh yang sudah cukup luas dikenal ialah golongan darah pada manusia. Di kenal ada empat jenis golongan darah, yaitu A, B, AB dan O, yang dikendalikan oleh tiga alel, yaitu IA, IB, dan i. Alel-alel tersebut bertanggung jawab dalam mengendalikan pembentukan antigen sel darah, alel IA dan alel IB masing-masing mengendalikan pembentukan antigen A dan antigen B, sedangkan alel i tidak membentuk antigen.
Antara alel IA dengan alel IB terdapat hubungan kodominan, yang berarti genotipe IA IB dapat emproduksi antigen A dan antigen B. Alel IA dan alel IB kedua-duanya terhadap alel i. Dengan keterangan tersebut maka akan diperoleh genotype IA IA dan IA Ii (golongan darah A) akan memproduksi antigen A, genotype IB IB dan IB Ii (golongan darah B) akan menghasilkan antigen B; genotype IA IB (golongan darah AB) mempunyai antigen A dan B, sedangkan genotype ii (golongan darah O) tidak memproduksi antigen
(Jusuf, 2001).
Pengertian alel ganda adalah faktor yang memiliki lebih dari dua macam alel, sekalipun tidak ada satu pun makhluk diploid yang mempunyai lebih dari dua macam alel untuk tiap faktor. Sebab timbulnya alel ganda adalah peristiwa mutasi gen. Stanfield (1983) mengatakan “Karena suatu gen dapat berubah menjadi bentuk-bentuk alternatif oleh proses mutasi, secara teoritis di dalam suatu populasi mungkin dijumpai sejumlah besar alela” (Corebima, 1997).
Pada manusia, hewan dan tumbuhan dikenal beberapa sifat keturunan yang ditentukan oleh suatu seri alel ganda. Golongan darah ABO yang ditemukan oleh Landsteiner pada tahun 1900 dan faktor Rh yang ditemukan oleh Landsteiner bersama Weiner pada tahun 1942 juga ditentukan oleh alel ganda. Untuk golongan darah tipe ABO misalnya, dikenal oleh alel ganda IA, IB, dan i (Hartati, 2009).
Banyak para ilmuan mengikuti penemuan Landsteiner tentang penggumpalan sel-sel darah merah dan pengertian tentang reaksi antigen-antibodi, maka penyelidikan selanjutnya memberi penegasan mengenai adanya dua antibodi alamiah di dalam serum darah dan dua antigen pada permukaan dari eritrosit. Salah seorang dapat membentuk salah satu atau dua antibodi atau sama sekali tidak membentuknya. Demikian pula dengan antigennya. Dua antigen itu disebut antigen –A dan antigen –B, sedangkan dua antibodi disebut anti –A (atau α) dan anti –B (atau β).
Melalui tes darah maka setiap orang dapat mengetahui golongan darahnya. Berdasarkan sifat kimianya, antigen –A dan –B merupakan mukopolisakharida, terdiri dari protein dan gula. Dalam dua antigen itu bagian proteinnya sama, tetapi bagian gulanya merupakan dasar kekhasan
antigen-antibodi. Golongan darah seseorang ditentukan oleh macamnya antigen yang dibentuknya (Suryo, 1986).
Ada bermacam golongan darah pada manusia, salah satu contoh itu herediter (keturunan) yang ditentukan oleh alel ganda. Berhubungan dengan itu, golongan darah seseorang dapat mempunyai arti penting dalam kehidupan. Pada permulan abad ini (tahun 1900 dan 1901) K. Landsteiner menemukan bahwa penggumpalan darah (aglutinasi) kadang-kadang terjadi apabila eritrosit (sel darah merah) seseorang dicampur dengan serum darah orang lain. Akan tetapi pada orang lain, campuran tadi tidak mengakibatkan penggumpalan darah. Berdasarkan reaksi tadi, maka Landsteiner membagi orang menjadi tiga golongan, yaitu A, B dan O. Golongan yang keempat jarang sekali dijumpai, yaitu golongan darah AB, telah ditemukan oleh dua orang mahasiswa Landsteiner dalam tahun 1902, ialah A. V. von Decastello dan A. Sturli (Suryo, 1984).
Dilihat dari golongan ABO, manusia dikelompokkan menjadi 4 golongan. Penggolongan ini didasarkan atas ada tidaknya suatu zat tertentu di dalam sel darah merah, yaitu yang dikenal dengan nama aglutinogen (antigen). Ada dua macam aglutinogen yaitu aglutinogen A dan aglutinogen B. Aglutinogen merupakan polisakarida, dan terdapat tidak saja terbatas di dalam sel darah merah tetapi juga kelenjar ludah, pankreas, hati, ginjal, paru-paru, testes dan semen. (Kartolo, 1993).
Alel merupakan bentuk alternatif suatu gen yang terdapat pada lokus (tempat) tertentu. Individu dengan genotipe AA dikatakan mempunyai alel A, sedang individu aa mempunyai alel a. Demikian pula individu Aa memiliki dua macam alel, yaitu A dan a. Jadi, lokus A dapat ditempati oleh sepasang (dua buah) alel, yaitu AA, Aa atau aa, bergantung kepada genotipe individu yang bersangkutan.
Namun, kenyataan yang sebenarnya lebih umum dijumpai adalah bahwa pada suatu lokus tertentu dimungkinkan munculnya lebih dari hanya dua macam alel, sehingga lokus tersebut dikatakan memiliki sederetan alel. Fenomena semacam ini disebut sebagai alel ganda (multiple alleles).
Meskipun demikian, pada individu diploid, yaitu individu yang tiap kromosomnya terdiri atas sepasang kromosom homolog, betapa pun banyaknya alel yang ada pada suatu lokus, yang muncul hanyalah sepasang (dua buah). Katakanlah pada lokus X terdapat alel X1, X2, X3, X4, X5. Maka, genotipe individu diploid yang mungkin akan muncul antara lain X1X1, X1X2, X1X3, X2X2 dan seterusnya.

Beberapa Contoh Alel Ganda

 Alel ganda pada lalat Drosophila sp

            Lokus w pada Drosophila melanogaster mempunyai sederetan alel dengan perbedaan tingkat aktivitas dalam produksi pigmen mata yang dapat diukur menggunakan spektrofotometer. Tabel 2.3 memperlihatkan konsentrasi relatif pigmen mata yang dihasilkan oleh berbagai macam genotipe homozigot pada lokus w.
            Konsentrasi relatif pigmen mata pada berbagai genotipe D. melanogaster
Genotipe Konsentrasi relatif pigmen mata terhadap pigmen total Genotipe Konsentrasi relatif pigmen mata terhadap pigmen total
Ww 0,0044 wsatwsat 0,1404
wawa 0,0197 wcolwcol 0,1636
wewe 0,0324 w+sw+s 0,6859
wchwch 0,0410 w+cw+c 0,9895
wcowco 0,0798 w+Gw+G 1,2548

Alel ganda pada kelinci

            Pada kelinci terdapat alel ganda yang mengatur warna bulu. Alel ganda ini mempunyai empat anggota, yaitu c+, cch, ch, dan c, masing-masing untuk tipe liar, cincila, himalayan, dan albino. Tipe liar, atau sering disebut juga agouti, ditandai oleh pigmentasi penuh; cincila ditandai oleh warna bulu kelabu keperak-perakan; himalayan berwarna putih dengan ujung hitam, terutama pada anggota badan. Urutan dominansi keempat alel tersebut adalah c+ > cch > ch > c dengan sifat dominansi penuh. Sebagai contoh, genotipe heterozigot cchc, akan mempunyai bulu tipe cincila.
Contoh lain yang merupakan peristiwa dari alel ganda adalah tumbuhnya rambut pada segmen digitalis tengah jari-jari tangan. Penentuan dominasi pada rambut digitalis tengah jari tangan adalah sebagai berikut.
H1 > H2 > H3 > H4 > H5
Dimana :
·         H1 = Rambut terdapat pada semua jari
·         H2 = Rambut pada jari kelingking, jari manis, dan jari tengah
·         H3 = Rambut pada jari manis dan jari tengah
·         H4 = Rambut hanya pada jari manis saja
·         H5 = Tidak ada rambut pada keempat





Metodologi
·         Alat dan bahan
o   Jari tangan
o   Darah
o   Loop
o   Serum a, serum b, serum ab, dan anti Rh
o   Alcohol
o   Kertas uji golongan darah
o   Yusuk gigi

·         Cara kerja (kalimat aktif)
Percobaan 1 :
1.       Dengan menggunakan sebuah loop, setiap orang mengamati sisi atas jari – jari tangannya sendiri.
2.       Memperhatikan dengan seksama apakah pada segmen digitalis tengah jari – jari tangan tampak jelas tumbuh rambut.
Percobaan 2 :
1.       Dengam menggunakan darah praktikan, menyiapkan bahan dan alat yang digunakan.
2.       Mengambil darah praktikan dengan menggunakan blood lanset.
3.       Setelah itu menaruh tetesan darah di atas kertas uji golongan darah
4.       Pada kotak pertama, menaruh anti A, kotak kedua anti B, kotak ketiga anti AB, dan kotak keempat anti Rh
5.       Kemudian aduk dengan menggunakan pengaduk.
6.       mengamati apakah terjadi penggumpalan.
7.       Mencatat hasil pengamatan.












Hasil
a.      Rambut di Ruas Tengah Jari Tangan
Alel Ganda
Hasil Individu
Hasil Kelas
Jumlah
Persentase
H1
Siti Maesaroh
1
4%
H2
Juliadi
1
4%
H3
Dhany, Wiena
2
7%
H4
Musdalifah, Sofie, Faisal, Putri Diana, Novita
5
17%
H5
FitriYani, Intan P.S, Aulia, Monika, Fitri Yanti, Intan. M, Irfan, Nisa, Andes, Vita, Indah, Heni, Nadia, Tiwi, Nurliya, Ardi, Ahmad A, Eca, Syifa.
19
68%
Total
28
100 %

Perhitungan :
H1 : 4/100 x 28 = 1,12
H2 : 4/100 x 28 =1,12
H3 :7/100 x 28 = 1,96
H4 : 17/100 x 28 = 4,76
H5 : 68/100 x 28 = 19,04

H1
H2
H3
H4
H5
Diperoleh
1
1
2
5
19
Diharapkan (e)
1,12
1,12
1,96
4,76
19,04
Deviasi ( d )
-0,12
-0,12
-0,04
-0,24
0,04
X2 = (-0,12)2 / 1,12 + (-0,12)2 / 1,12 + (-0,04)2 /1,96 + (-0,24)2 / 4,76 + (0,04)2 / 19,04
      = 0,01 + 0,01 + 0,00082 + 0,0121 + 0,00008 = 0,033
Dk = 5 – 1 = 4

b.      Golongan Darah
Jenis Pengujian
Hasil Individu
(Beri tanda X)
Hasil Kelas
Jumlah
Persentase
Golongan darah A
XXXXXX
6
25%
Golongan darah B
XXXXXXXXXXX
11
45%
Golongan darah AB
XXX
3
13%
Golongan darah O
XXXX
4
17%
Total
24
100%
Rh Positif
XXXXXXXXXXXXXXX
XXXXXXXXX
24
100%
Rh Negatiif
-
0
0
Total
24
100 %












Pembahasan
           
          Berdasarkan data pengamatan pada rambut di ruas tengah tangan yang dilakukanterhadap 24 sampel, terdapat 1 orang yang termasuk ke dalam H1, 1 orang H2, 2 orangH3, 5 orang H4 dan 19 orang H5. Dalam hal ini, data yang diperoleh akan dikaitkan oleh data harapan rata-rata yang dimiliki oleh orang Indonesia yaitu H1 sebesar 4%, H2sebesar 4%, H3 sebesar 7%, H4 sebesar 17% dan H5 sebesar 68%. Dari data di atas dapat diketahui bahwa frekuensi tidak adanya rambut pada ruas jari paling banyak ditemui dibandingkan dengan frekuensi pada H1, H2, H3, dan H4.
Data tersebut berarti menunjukkan bahwa seri alel ganda pada H5 bersifat dominandibandingkan dengan seri alel ganda pada tipe lainnya. Jadi, dapat dilihat urutandominansinya adalah H5>H4>H3>H2=H1.Berdasarkan data yang telah dilakukan perhitungannya, didapatkan bahawa pada percobaan kali ini mengenai rambut yang berada pada ruas tengah jari tangan tidak dipengaruhi oleh adanya faktor lingkungan atau faktor luar.
Hal tersebut dapat dilihat dari hasil perhitungan dengan menggunakan perhitungan chi square yang diperolehangka sebesar 0,033 dengan nilai deviasi sebesar 4, sehingga menunjukkan posisi nilaikemungkinan yang didapat. Hasil tersebut memberikan arti bahwa data yang diperolehpada percobaan tersebut baik dan tidak dipengaruhi faktor luar, dengan batasambangnya sebesar 0,0
Setelah mengikuti praktikum dengan unit Alel Ganda ini, praktikan memiliki pengetahuan mengenai cara mengidentifikasi golongan darah pada manusia. Hasil dari pengidentifikasian yang dilakukan pada setiap praktikan (probandus) adalah sebagai berikut sebagai berikut:
· Golongan darah A = 6 probandus dengan persentase sebanyak 25%
· Golongan darah B = 11 probandus dengan persentase sebanyak 45%
· Golongan darah AB = 3 probandus dengan persentase sebanyak 13%
· Golongan darah O = 4 probandus dengan persentase sebanyak 17%
            Bahan utama yang digunakan dalam melakukan identifikasi adalah berupa serum anti A dan serum anti B yang diteteskan pada darah probandus. Jika pada anti serum A terjadi penggumpalan (aglutinasi) sedangkan anti serum B tidak, maka golongan darah probandus adalah A. Bila terjadi sebaliknya, maka golongan darah probandus adalah B. Bila kedua-duanya mengalami penggumpalan maka golongan darah probandus adalah AB. Bila kedua-duanya tidak mengalami penggumpalan maka golongan darah probandus adalah O.
            Menurut Jusuf (2001), dikenal ada empat jenis golongan darah, yaitu A, B, AB dan O, yang dikendalikan oleh tiga alel, yaitu IA, IB, dan i. Alel-alel tersebut bertanggung jawab dalam mengendalikan pembentukan antigen sel darah, alel IA dan alel IB masing-masing mengendalikan pembentukan antigen A dan antigen B, sedangkan alel i tidak membentuk antigen.
Antara alel IA dengan alel IB terdapat hubungan kodominan, yang berarti genotipe IA IB dapat memproduksi antigen A dan antigen B. Alel IA dan alel IB kedua-duanya terhadap alel i. Dengan keterangan tersebut maka akan diperoleh genotipe IA IA dan IA Ii (golongan darah A) akan memproduksi antigen A, genotipe IB IB dan IB Ii (golongan darah B) akan menghasilkan antigen B; genotipe IA IB (golongan darah AB) mempunyai antigen A dan B, sedangkan genotipe ii (golongan darah O) tidak memproduksi antigen.
            Dalam transfusi darah golongan darah AB dapat menerima sumbangan dari semua golongan darah (tidak akan terjadi penggumpalan), sebaliknya golongan darah O hanya dapat menerima sumbangan dari golongan darah yang sama, golongan darah lainnya akan digumpalkan. Bila dilihat dari sudut donor, golongan darah O dapat menyumbangkan darah untuk semua golongan darah, sedangkan golongan darah AB dapat menjadi donor hanya untuk golongan darah yang sama. Golongan darah A dan B dapat menjadi penerima sumbangan dari golongan darah O dan dari golongan darah sejenis dan dapat menjadi donor untuk golongan AB dan golongan sejenis (Jusuf, 2001).
            Dari penjelasan teori di atas dapat diketahui bahwa sangat penting mengenal golongan darah sebelum melakukan transfuse darah. Pada serum darah merah akan dibentuk anti bodi. Pada serum darah merah akan dibentuk anti bodi yang dapat mengenali anti gen sel darah merahnya dan antigen asing yang masuk dari luar.
Antibodi akan menggumpalkan antigen yang berbeda dari antigen yang dibentuk oleh sel darah merahnya. Jadi antibodi golongan darah A (yang memproduksi antigen A) akan menggumpalkan antigen B dan antibodi golongan darah B (yang memproduksi antigen B) akan menggumpalkan anti gen A. Jika antibody tidak dapat menggumpalkan antigen A dan B karena memproduksi dengan baik antigen tersebut maka golongan darahnya adalah AB. Sebaliknya, jika tidak mengandung antigen baik A maupun B, antibodinya akan menganggap kedua antigen tersebut sebagai zat asing sehingga kedua-duanya akan digumpalkan maka golongan darahnya adalah golongan darah O.
            Pada praktikum ini, semua praktikan memilii rhesus positif, yakni ketika darah dimasukkan serum anti Rh kemudian terjadi penggumpalan maka darah tersebut memiliki rhesus positif, sedangkan jika tidak terjadi penggumpalan maka disebut rhesus negative. Untuk orang Indonesia, dominan memiliki rhesus positif.
Menurut Suryo (1984), menurunnya alel-alel ganda dapat diikuti dari beberapa contoh perkawinan berikut ini:
1. Suami-istri masing-masing bergolongan darah O akan mempunyai keturunan bergolongan darah O saja.
2. Seorang laki-laki bergolongan darah A menikah dengan seorang perempuan bergolongan darah O. Kemungkinan keturunannya, 50 % bergolongan darah A dan 50 % bergolongan darah O.
3. Seorang laki-laki bergolongan darah B menikah dengan seorang perempuan bergolongan darah B pula. Kemungkinan keturunannya, 75 % bergolongan darah B dan 25 % bergolongan darah O.
4. Pria bergolongan darah B menikah dengan wanita bergolongan darah A. Kemungkinan keturunannya, 25 % bergolongan darah AB dan 25 % bergolongan darah A, 25 % bergolongan darah B dan 25 % bergolongan darah O.



Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1.      Golongan darah manusia merupakan salah satu sifat keturunan yang ditentukan oleh alel ganda. Genotipe golongan darah A adalah IA IA dan IA Ii, genotipe golongan darah B adalah IB IB dan IB Ii, genotipe golongan darah AB adalah IA IB dan genotipe golongan darah O adalah ii.
2.      Dari hasil praktikum terdapat beberapa sifat keturunan yang dipengaruhi oleh alel ganda adalah ada tidaknya rambut di ruas tengah di punggung telapak tangan,
3.      Golongan darah sistem ABO dan Rh.Golongan darah O memiliki frekuensi yang paling banyak dimiliki/ditemui.Golongan darah Rh+ frekuensinya paling banyak ditemui pada orang Indonesia.
.

















Daftar Bacaan
Anonim. 2009. Genetika. http: //wiki/genetika/or.id. Diakses Rabu, 28 Mei 2013
Corebima, AD. 1997. Genetika Mendel. Surabaya: Airlangga University Press.
Hartati. 2009. Penuntun Praktikum Genetika. Makassar: Universitas Negeri Makassar.
Jusuf, Muhammad. 2001. Genetika I. Jakarta: CV. INFOMEDIKA.
Suryo. 1984. Genetika Strata 1. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Wulangi, Kartolo. S. 1993. Prinsip-Prinsip Fisiologi Hewan. Jakarta: Departemen Pendidikan  
      dan Kebudayaan.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar